Berita

Putri Wali Nanggroe, Mutia : Saya akan Menjaga Ayah

Laporan: Ansari Hasyim | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Di antara ribuan undangan yang hadir dalam pengukuhan Malik Mahmud Al Haythar sebagai Wali Nanggroe ke-9 di Gedung DPR Aceh, Senin (16/12/2013) terdapat satu sosok yang berbeda. Ia adalah putri Malik Mahmud yang belakangan diketahui bernama Mutia. Wanita muda nan jelita ini duduk di bagian kursi undangan keluarga Malik Mahmud berdampingan dengan sejumlah undangan terhormat lainnya. Seperti politisi senior dan mantan menteri Pertanian Malaysia keturunan Aceh, Tun Sri Sanusi Junid, yang hadir bersama istrinya, Puan Sri Nila Inangda.

Mutia terlihat begitu memesona dalam balutan jilbab modis paduan warna merah dan merah jambu. Ia menempati satu kursi tepat dibelakang podium sang ayah Malik Mahmud Al Haythar berpidato untuk pertama kali beberapa saat setelah dikukuhkan sebagai Wali Nanggroe ke-9 menggantikan Wali Nanggroe ke-8 Dr Tgk Muhammad Hasan di Tiro yang meninggal dunia pada 3 Juni 2010. Mutia memiliki paras jelita mewarisi raut wajah sang ayah Malik Mahmud. Namun sosoknya masih terlihat kental berkarakter wanita Aceh pada umumnya. “Saya merasa bahagia hari ini,” kata wanita itu kepada Serambinews.com mengungkapkan perasaannya.

Saat ditemui, Mutia berada dalam barisan bersama undangan lainnya untuk memberi ucapan selamat kepada sang ayah. Dari sorot matanya yang bundar dan letik, Mutia menyimpan rasa haru begitu mendalam kepada sang ayah yang telah dinobatkan sebagai Wali Nanggroe ke-9. “Saya akan berusaha menjaga ayah, juga akan menjaga kesehatannya,” kata Mutia tersenyum sumringah.

Tak hanya itu, di antara ribuan undangan yang hadir, Mutia adalah satu-satunya undangan yang pertama kali memberi ucapan selamat kepada sang ayah dengan mencium kedua pipi dan memeluknya. Bagi Mutia, selain seorang ayah, Malik Mahmud juga dianggap sebagai sosok pekerja keras memperjuangkan Aceh di saat-saat konflik masih mendera Tanah Serambi Mekkah sampai kemudian Aceh damai dalam NKRI. “Perjuangan beliau (untuk Aceh), itu yang saya ingat,” ujarnya. Mutia mengaku selama ini ia menetap di Singapura. Namun setelah sang ayah dinobatkan sebagai Wali Nanggroe, Mutia akan mempertimbangkan keputusannya menetap di Aceh agar dapat menjaga ayahnya menjalankan tugas sebagai Wali Nanggroe. “Insya Allah, Insya Allah…” katanya.(*)

To Top